Latest Posts
Film Review (11) Game Info (4) Game Review (2) Wisdom (4)
Showing posts with label Wisdom. Show all posts
Showing posts with label Wisdom. Show all posts

Mar 17, 2017

We Are One: Manusia dalam Perspektif yang Lebih Besar




Saat ini masih banyak orang yang saling berdebat tentang agama siapa yang paling benar sehingga antar pemeluk agama yang berbeda saling menghujat satu sama lain. Mereka saling mengklaim bahwa “Tuhan” merekalah Tuhan yang paling benar, Tuhan Yang Paling Maha Esa. Agama A mengklaim bahwa Tuhan mereka paling benar dan Tuhan agama lain salah, begitu juga dengan agama B, C dan lain-lain juga melakukan klaim yang sama. Jadi sebenarnya, ada berapa Tuhan Yang Maha Esa?


Untuk apa saling menghujat dan merendahkan? Padahal, untuk membuat orang lain bersimpati kepada kita dan mau ikut melakukan apa yang kita lakukan, seharusnya kita memberikan teladan yang baik, contoh yang baik sebagai seorang pemeluk agama. Apakah kita akan mendapatkan simpati jika kita menghujat dan merendahkan? Ditimpuk iya. Agama ada untuk melayani manusia, bukan malah sebaliknya. Manusia gak perlu berjuang membela agama, karena Tuhan sendiri mampu untuk menjaga agamanya. Masih bandel juga? Dengan berselisih dan berperang demi agama, Anda sudah melecehkan Tuhan dan menganggap Tuhan tidak mampu menjaga agamanya. Nah lo..? Jika semua orang di muka Bumi mati karena berperang demi agama, terus agama mau ngapain sendirian di muka Bumi tanpa adanya manusia? Salto kayang?

Keagungan Tuhan tidak akan bertambah atau berkurang jika semua manusia di Bumi menyembah Tuhan atau jika semua manusia di Bumi tidak menyembah Tuhan sama sekali. Karena keagungan Tuhan terlalu jauh untuk bisa dibayangkan oleh manusia, itulah mengapa ada ciptaannya, itulah mengapa Tuhan mewujud dalam semua ciptaanya, agar bisa dikecap dengan indera.  Sebagian dari kita masih berusaha melayani Tuhan dengan melakukan ritual yang masih mengutamakan ke-aku-an, menyembah Tuhan siang dan malam dengan harapan kebahagiaan surga di alam lain. Kenapa tidak mulai menciptakan surga kita sendiri di Bumi dengan hidup rukun, saling menghargai, saling mencintai dan saling bekerja sama untuk tujuan kemanusiaan tanpa memandang perbedaan? Bagaimana mungkin kita bisa melayani Tuhan jika kita tidak bisa melayani sesama makhluk Tuhan di muka Bumi? Tuhan tidak membedakan manusia berdasarkan Suku, Agama,Ras, apalagi  Golongan. Perbedaan ada agar dalam perjalanannya, segala perbedaan itu saling melengkapi seperti susunan sebuah puzzle untuk menjadi lengkap.

Kita, manusia, tinggal di Bumi. Bumi adalah planet yang berada di dalam system tata surya yang berpusat pada sebuah bintang. Di dalam tata surya kita, bintang itu kita sebut sebagai Matahari. Matahari adalah salah satu dari sekian ratus milyar jumlah bintang yang ada di galaksi Bima Sakti. Seandainya ada 2 saja planet di setiap bintang, apakah mungkin semua planet itu kosong tanpa ada kehidupan seperti di Bumi? Padahal di alam semesta ada banyak sekali galaksi. Dari perspektif ini, apakah Anda masih berkepala batu dan menganggap bahwa Tuhan itu hanya milik agama Anda?

Seiring dengan berakhirnya tulisan saya, marilah kita mengakhiri semua pertikaian ini, semua keterpisahan ini, dan bersatu. Bukan sebagai warga suatu RT, gang, suku tertentu, agama tertentu atau pulau tertentu, tapi sebagai bagian dari galaksi, sebagai bagian dari warga galaksi, sebagai bagian dari semesta yang maha luas. Sebagai bagian dari fragmen cahaya Tuhan.

more »

Mar 16, 2017

Every Revolution Begins with A Spark


Artikel ini adalah artikel yang Gibaychan tulis di notes Facebook pada Desember 2013 dan disalin di blog ini semata-mata hanya untuk berbagi.


Every Revolution Begins with A Spark/ Setiap Revolusi Diawali dengan Sebuah Percikan. Judul diatas adalah tagline dari sekuel film trilogy "The Hunger Games: Catching Fire" aka Maen Laper Nangkep Api (loh?). Gibaychan disini gak akan membahas filmnya, tapi cukup nyolong kalimatnya aja, huehehehe... (^.^')

***

Akhir-akhir ini, banyak orang yang mulai kehilangan kepercayaannya kepada pemerintah, peradilan, dan bahkan kepada agama. Ketika semua hal ini tidak bisa memberikan kebaikan, ketentraman dan rasa nyaman, kita menjadi bertanya-tanya : Dunia seperti apakah ini, yang kita hidup di dalamnya?

Sebenarnya, orang-orang ini tidak menginginkan hal yang muluk-muluk kepada pemerintah. Mereka hanya menginginkan para pemimpin yang sudah mereka beri kepercayaan untuk memimpin negara ini mampu secara sadar untuk memimpin negara ini dengan amanah ; baik dan jujur sehingga negara bisa menjadi pengayom masyarakat, mensejahterakan dan memberikan yang terbaik yang bisa diberikan untuk kemakmuran, bukan malah menutup kebobrokan dan ketidakmampuan dengan menyuburkan dogma “Tidak apa-apa hidup susah di dunia, jika Anda rajin beribadah, saat mati nanti Anda pasti akan masuk surga.”   Saya jadi lebih suka untuk mengubah quote nasionalisme dari om John F. Kennedy menjadi : “Jangan tanyakan apa yang telah kamu lakukan untuk negara, tapi tanyakanlah apa yang negara telah lakukan untukmu.”

Saat lembaga peradilan hanya berpihak kepada uang dan kekuasaan, kepada siapa lagi kita akan mengadu? Kepada Tuhan? Ya, boleh juga sih, tapi kan Tuhan sudah menjanjikan surga setelah kita mati, jadi seperti apapun hidupmu, bersabarlah dan tetaplah giat beribadah.  Polisi, yang diharapkan menjadi pengayom masyarakat, justru malah menjadi duri dalam daging. Seringnya, orang jadi males jika harus berurusan dengan polisi, sehingga, hampir semua orang lebih memilih untuk tidak peduli daripada peduli tapi jadi ribet ruwet mbulet karena berurusan dengan lembaga yang satu ini.

Note: Sekarang ini, 4 tahun setelah artikel ini ditulis, lembaga Kepolisian sudah mulai berbenah dan semakin menjadi lebih baik dibawah pimpinan Bapak Tito Karnavian.

Agama diyakini mengajarkan kebaikan dan jalan lurus. Tapi pada prakteknya, banyak sekali penyimpangan yang dilakukan oleh penganutnya. Seolah-olah Tuhan mengamini bahwa agama A lah, atau agama B lah yang paling benar, dan yang lainnya sesat, dan Tuhan memerintahkan untuk saling mengasihi antar umat seagama dan memerangi umat agama lain. Sama seperti polisi yang baik adalah oknum, seorang religius yang ‘baik’ juga adalah oknum. Banyak orang yang membutuhkan agama untuk menjadi baik, dan itu baik. Tapi saat seseorang ingin menjadi baik dengan cara tidak berpihak kepada agama manapun, tidak ada seorangpun yang berhak untuk menghakiminya, walaupun pada kenyataannya, orang tersebut punya agama yang tertulis di KTPnya.

Seperti hal nya orgasme, semua hal diatas sedang berlari cepat menuju klimaks, dan akan segera memudar setelah satu erangan panjang yang mendebarkan :P Siapakah aktor yang bertanggung jawab dibalik klimaks tersebut? Tentu saja, masing-masing diri Anda sendiri.


A Spark

“Saat aku masih muda, aku ingin mengubah dunia.

Aku mendapati diriku sulit untuk mengubah dunia, jadi aku mencoba untuk mengubah negaraku.

Saat aku tahu aku tidak dapat mengubah negaraku, aku mulai fokus pada kotaku. Aku tidak dapat mengubah kota, dan sebagai seseorang yang menjadi lebih tua, aku mencoba untuk mengubah keluargaku.

Sekarang, sebagai orang tua, aku menyadari bahwa satu - satunya hal yang bisa kuubah adalah diriku sendiri. Tiba - tiba saja aku sadar bahwa jika dulu aku mengubah diriku sendiri, aku akan membuat dampak pada keluargaku. Aku dan keluargaku bisa membuat dampak pada kota kami. Dampak dari kota kami bisa mengubah negara dan tentu saja, aku bisa mengubah dunia."

― oleh Unknown Monk, sekitar 1100 Masehi.

hmm.. jadi inget sama Jokowi dan Ahok.

Yup, semuanya harus dimulai dari diri sendiri. Semua orang mempunyai 'spark' dalam dirinya. Cuma masalah pilihan apakah Anda ingin memendam spark Anda, atau ingin memunculkannya sehingga Anda menjadi teladan untuk orang-orang disekitar Anda dan mereka menjadi terinspirasi untuk memunculkan spark mereka sendiri. Tidak usah memulai dengan goal yang muluk-muluk dulu. Kata Aa Gym ; mulailah dari diri sendiri, dari hal yang terkecil, dan dari sekarang.

Misalnya, jika anda ingin memaafkan orang lain, langkah pertama yang harus anda ambil adalah memaafkan diri anda sendiri terlebih dahulu, dan kemudian memaafkan keadaan. Baru setelah itu anda akan bisa memaafkan orang lain.

Kita semua punya peluang untuk menciptakan perubahan. Usaha perubahan pada tingkat yang lebih tinggi akan sia - sia, jika kita sendiri, tidak mendukung usaha itu dari tingkat yang lebih rendah, yaitu diri kita sendiri dan orang - orang yang kita cintai disekitar kita. Biarkanlah Jokowi dan Ahok mengambil peran sesuai dengan porsi mereka, dan kita, menyadari dan bertanggung jawab pada peran kita masing - masing.

***


“Change will not come if we wait for some other person, or if we wait for some other time. We are the ones we've been waiting for. We are the change that we seek.” ― Barack Obama

“The world as we have created it is a process of our thinking. It cannot be changed without changing our thinking.” ― Albert Einstein

“Be the change that you wish to see in the world.” ― Mahatma Gandhi.

"Kami memintamu untuk mengenali dirimu sendiri; dan dengan berbuat demikian energi-energi penciptaan akan menghormati kamu, menghubungkan kamu dengan Keluarga Kehidupan, kepada Keluarga Cahaya, bagi mereka yang memilih untuk meyakini adanya tujuan dan makna pada semua kehidupan. Rangkullah gagasan-gagasan ini dan persiapkan dirimu untuk perjalanan yang lebih mendalam bagi penyembuhan planet dengan memahami kekuatan cinta kasih, kekuatan ikhlas, kekuatan welas asih. Sesungguhnya kamu benar-benar saling terhubung dan frekuensi kamu akan memicu satu sama lain dan menyinari malam bagaikan kunang-kunang di suatu senja pada awal musim panas. Kami mengingatkanmu bahwa ada suatu pola, suatu tujuan: Seorang diri, masing-masing dari kamu memegang suatu cahaya; bersama-sama cahaya akan berkelompok dan membuat sebuah pola. Yakini segala apa yang kamu hadapi, setiap krisis yang kamu alami, akan membawa kamu kepada suatu pembelajaran hidup yang besar di mana secara ideal kekuatan cinta kasih adalah yang kamu pelajari. Maafkanlah dan perlihatkan kegembiraan kamu karena kamu hidup."― Dari buku "Keluarga Cahaya"

Semoga bermanfaat :)


more »

Mar 7, 2017

Kisah Para Penduduk Kepulauan Solomon

Disclaimer:
Tulisan ini pernah saya post di Kaskus dengan ID greatest.cure
___


Semalem abis nonton film india "Tare zameen Par" (Like Stars on Earth) di TV. Pak guru Nikumbh (Aamir Khan) memberikan cerita inspiratif tentang para penduduk di Kepulauan Solomon. Dan ini adalah artikel yang saya kumpulkan dari beberapa sumber.


KEPULAUAN SOLOMON bukanlah negara yang tidak berpeta di muka bumi ini. Kepulauan Solomon terletak di timur Papua New Guinea. Kepulauan Solomon telah didiami oleh orang Melanesia sejak sekitar 30,000 tahun dahulu dan menjadi sebuah negeri naungan United Kingdom sejak 1890-an. Kepulauan Solomon diberi hak kedaulatannya sendiri pada tahun 1976. Negara ini masih menjadi anggota Persemakmuran Kerajaan.





Cerita tentang salah satu kebiasaan yang ditemui pada penduduk yang tinggal di sekitar kepulauan Solomon, yang letaknya di Pasifik Selatan. Nah, penduduk primitif yang tinggal di sana punya sebuah kebiasaan yang menarik yakni meneriaki pohon. Untuk apa? Kebisaan ini ternyata mereka lakukan apabila terdapat pohon dengan akar-akar yang sangat kuat dan sulit untuk dipotong dengan kapak.

Inilah yang mereka lakukan, dengan tujuannya supaya pohon itu mati.


Caranya adalah, beberapa penduduk yang lebih kuat dan berani akan memanjat hingga ke atas pohon itu. Lalu, ketika sampai di atas pohon itu bersama dengan penduduk yang ada di bawah pohon, mereka akan berteriak sekuat-kuatnya kepada pohon itu. Mereka lakukan teriakan berjam-jam, selama kurang lebih empat puluh hari. Dan, apa yang terjadi sungguh menakjubkan. Pohon yang diteriaki itu perlahan-lahan daunnya mulai mengering. Setelah itu dahan-dahannya juga mulai rontok dan perlahan-lahan pohon itu akan mati dan mudah ditumbangkan.

***

Nah, sekarang, yang jelas dan perlu diingat bahwa setiap kali Anda berteriak kepada mahkluk hidup tertentu maka berarti Anda sedang mematikan rohnya.

Pernahkah Anda berteriak pada anak Anda? orang di sekeliling anda atau siapapun?
Ayo cepat !
Dasar lelet !
Bego banget sih ! Begitu aja nggak bisa dikerjakan ?
Jangan main-main disini !
Berisik !
Dan lain sebagainya…
Atau, mungkin Anda pun berteriak balik kepada pasangan hidup Anda karena Anda merasa sakit hati ?

Suami/istri seperti kamu nggak tahu diri !
Bodoh banget jadi laki/bini nggak bisa apa-apa !
Aduuuuh, perempuan / laki kampungan banget sih !?
Atau, bisa seorang guru berteriak pada anak didiknya :
Goblok, soal mudah begitu aja nggak bisa ! Kapan kamu jadi pinter ?!
Atau seorang atasan berteriak pada bawahannya saat merasa kesal :
Eh tahu nggak ?! Karyawan kayak kamu tuh kalo pergi aku nggak bakal nyesel !
Ada banyak yang bisa gantiin kamu !
Sial ! Kerja gini nggak becus ? Ngapain gue gaji elu ?

Ingatlah, setiap kali Anda berteriak pada seseorang karena merasa jengkel, marah, terhina, terluka ingatlah dengan apa yang diajarkan oleh penduduk kepulauan Solomon ini. Mereka mengajari kita bahwa setiap kali kita mulai berteriak, kita mulai mematikan roh pada orang yang kita cintai. Kita juga mematikan roh yang mempertautkan hubungan kita. Teriakan-teriakan, yang kita keluarkan karena emosi-emosi kita perlahan -lahan, pada akhirnya akan membunuh roh yang telah melekatkan hubungan anda.

Dalam kehidupan sehari-hari. Teriakan, hanya di berikan tatkala kita bicara dengan orang yang jauh jaraknya, benar?
Nah, mengapa orang yang marah dan emosional mengunakan teriakan-teriakan padahal jarak mereka dekat bahkan hanya bisa dihitung dalam centimeter. Mudah menjelaskannya.

Pada realitanya, meskipun secara fisik dekat tapi sebenarnya hati begitu jauh. Itulah sebabnya mereka harus saling berteriak! Selain itu, dengan berteriak, tanpa sadar mereka pun mulai berusaha melukai serta mematikan roh orang yang dimarahi karena perasaan-perasaan dendam, benci atau kemarahan yang dimiliki. Kita berteriak karena kita ingin melukai, kita ingin membalas.


Jadi mulai sekarang Jika tetap ingin roh pada orang yang anda sayangi tetap tumbuh, berkembang dan tidak mati, janganlah menggunakan teriakan-teriakan. Dengan berteriak kepada orang lain ada 2 kemungkinan balasan yang Anda akan terima. Anda akan dijauhi atau Anda akan mendapatkan teriakan balik, sebagai balasannya.

___



Quotes dari Pak Guru Nikumbh:


Di Pulau Solomon, ketika suku perlu membersihkan hutan untuk membuat ladang, mereka tidak menebang pohon. Mereka hanya berkumpul, mengelilingi pohon itu dan berteriak, memaki, menyumpahi dan mengutuk pohon itu. Perlahan tapi pasti, setelah beberapa hari, pohon-pohon mulai layu. Mati sendiri.

Hidup bukanlah benar - benar tentang mendapatkan tingkat yang tinggi dan bersaing dengan yang lainnya. Jangan mencoba untuk meregangkan semua jari, mereka bisa patah! Kadang dalam hidup, adalah baik untuk menjadi lambat dan bodoh.
___


Semoga artikel ini bermanfaat untuk mina-san yang membaca blog Gibaychan.
Terima kasih.. (^-^)/




more »

Berdoa







Mari kita rubah mindset mainstream bahwa berdoa adalah ndremimil / komat-kamit setelah kita melakukan ibadah.

Jika kita percaya bahwa Tuhan Maha Mengetahui, kita pasti percaya bahwa Dia tau apa yg kita pikirkan, rasakan, ucapkan, dan lakukan setiap detik, setiap hari, setiap saat dan setiap waktu.

***
more »

Text Widget

© 2013 F+G. WP Theme-junkie converted by Bloggertheme9